menghilangkan kebosanan







Jangan
Pernah bilang Bosan


Saya
bosan dengan menunya.”


Membosankan
sekali menunggu disini.”


Orangnya
sangat membosankan, tidak nyambung omongannya.”


Besok
aku mau pindah kerja saja karena selalu mengerjakan hal yang sama
terus.”


Umpatan-umpatan
bernada kebosanan sering terdengar dari orang-orang yang kurang sreg
menghadapi hal-hal yang sama dan tidak membuatnya berubah. Bukan dari
orang lain saja, kadang-kadang diri kita saja sering melontarkan
kata-kata yang bernada tidak mengenakkan karena terlalu sering
mengerjakan rutinitas yang membosankan. Mulai dari hal-hal kecil
semacam menu makanan di rumah, pekerjaan kantor, pertemanan,
keluarga, dsb. Padahal hal-hal sepele yang membuat perasaan kita
tidak enak sering memicu rentetan masalah serius. Contohnya,
gara-gara tidak mendapatkan hal-hal baru dalam rumah tangga bisa
memicu suami atau istri mencari ‘kesibukan’ baru bersama
orang lain (selingkuhannya). Padahal Cuma masalah sepele saja, biduk
rumah tangga yang tengah berlayar menuju keluarga sejahtera tiba-tiba
karam menabrak karang.


Mengeluh
kalau menemui kebosanan seharusnya tidak terucapkan sepatah katapun
kalau kita bisa mencari celah-celah untuk mengakalinya. Hitung-hitung
kita menyelamatkan tujuan yang lebih besar. Kalau bosan dengan
masakan di rumah, cobalah belajar memasak. Selain menambah
keterampilan memasak tentunya kita dapat membuat menu yang sesuai
dengan selera dan lagi tambah disayang suami/istri dan anak.
Syukur-syukur bisa ikut berpartisipasi dalam lomba masak. Republik
ini akan banyak punya chef setingkat Rudi Choirudin. Waktu sebelum
ulang tahun ke28 kemarin (10 Oktober 2008), saya selalu mengeluhkan
kebosanan ini itu. Hampir semuanya. Tanggal itu saya jadikan cut
off
terhadap diri saya yang lama dan diri saya yang sekarang.
Sejak itu, kebiasaan lama yang buruk saya tinggalkan di masa lampau.
Sekarang saatnya mengalami hidup baru yang penuh harapan untuk maju.
Kembali lagi ke pembicaraan mengatasi kebosanan, saya berhasil
mengalahkannya dengan trik-trik sederhana:


Bersyukur


Saya
sangat senang mendengarkan nasehat Pak Gede Prama setiap hari Minggu
di BaliTV, beliau selalu menekankan kepada pirsawannya selalu
bersyukur menerima keadaan diri. Selalu mensyukuri
‘keuntungan/kelebihan’ yang kita miliki, sekecil apapun.

Masih banyak orang lain yang lebih jelek nasibnya dengan kondisi kita
sekarang. Mereka yang tidak pernah bersyukur, kata Pak Gede Prama,
seharusnya mengunjungi UGD/Rumah sakit, tempat penampungan orang
cacat, penjara, dan kalau masih kurang bersyukur coba saja ke
kuburan. Hentikanlah usaha usaha kita untuk terus
membanding-bandingkan kita dengan orang lain. Jangan suka
membandingkan istri/suami anda dengan Luna Maya atau Tora Sudiro,
nanti ujung-ujungnya setiap hari anda akan bosan melihat
pasangannya. Sean Covey dalam buku The Seven habbits of Highly
Effective Teeens
hal 222 akan mengungkapkan
intinya:Membandingkan dirimu dengan orang lain hanyalah kabar
buruk. Mengapa?Karena kita semua berada dalam jadwal perkembangan yg
berbeda-beda. secara sosial,mental, dan fisik.Karena kita semua
memang dipanggangnya beda, hendaknya kita tidak terus-menerus membuka
pintu ovennya untuk melihat sudah seberapa baik kue kita dibandingkan
dengan kue tetangga, karena bisa-bisa kue kita tidak berkembang sama
sekali.....Masing-masing orang mempunyai jalannya sendiri,terpisah
dari jalan orang lain. Jalanmu dilengkapi dengan hambatan-hambatannya
sendiri yg dirancang khusus untuk pertumbuhan pribadimu. Jadi apa
gunanya mengintip tetanggamu atau melihat hambatan-hambatannya
dibandingkan dengan hambatan-hambatanmu?
Kalau pernah bosan
dan terlalu banyak mengeluhkan tidak enaknya masakan istri kita,
buang sekarang juga. Padahal anda beruntung sekali punya istri yang
mau memasakkan anda. Seharusnya anda bersyukur, dibandingkan saya
yang masih menjomblo, tidak ada yang memasakkan apalagi kalau pas
sakit, saya harus paksa menyeret kedua kaki ini pergi ke warung.
Masih mengenai makanan, kadang-kadang sering kita bilang, kok menu
makan saya itu-itu melulu. Anda kurang menghargai pemberian Tuhan,
banyak orang di luar yang lebih susah dari anda karena untuk sesuap
nasi saja harus mengais-ngais sisa makanan atau meminta belas kasihan
orang. Anda tidak ingin seperti itu kan?


Ambil
Inisiatif


Kalau
anda berani menjadi penentu kesuksesan anda sendiri, saya yakin tidak
akan senang menunggu sampai suatu keadaan berubah. Anda tentu tidak
akan menunggu sampai selesai pemilihan presiden tahun 2009 agar nasib
anda berubah ke arah kebaikan. Andalah penentu segalanya, bukan
presidennya siapa, atau siapa orang tua anda, atau apa pangkat dan
jabatan anda sekarang. Marilah ambil langkah tegas, kalau Sean Covey
(penulis The Seven habbits of Highly Effective Teeens)
mengatakannya sebagai sikap proaktif. Agar tidak merasa bosan
menunggu anda harus mengambil tindakan proaktif semisal datang lebih
awal, membuat janji bertemu sebelum bertemu seseorang apalagi
orangnya mempunyai kedudukan penting, atau berikanlah uang
lelah/salam tempel agar tidak menunggu lama untuk mengurus
surat-surat.


Menghilangkan
Dalih/Alasan


Sebenarnya
masih ada hubungannya dengan tips:mengambil inisiatif. Saya dapatkan
dari buku Berpikir dan Berjiwa Besar/The Magic of Thinking
Big
-nya David J. Schwartz pada halaman 27, saya ambil
kutipannya:”Saya tidak pernah bertemu atau mendengar tentang
seorang eksekutif bisnis, perwira militer, wiraniaga, tokoh
profesional yg sukses atau pemimpin dalam bidang apapun
yg tidak dapat menemukan satu atau lebih dalih besar
untuk mereka bersembunyi di belakangnya. Roosevelt dapat saja
bersembunyi dibalik tungkainya yg lumpuh, Truman dapat saja
menggunakan dalih tidak berpendidikan di perguruan tinggi, dan
Eisenhower dapat saja bersembunyi dibalik serangan jantung yg
dideritanya.”
Kalau bosan dengan prestasi kerja di kantor
yang biasa-biasa saja, yakinlah anda setelah mempraktekkan tips ini
tidak akan bosan lagi. Carilah bidang keterampilan lain yang membuat
bobot kualitas anda bertambah. Barangkali anda mendalami bidang
software skill sambil menggeluti pekerjaan utama di kantor.
Barangkali kalau bosan menunggu, anda bisa membawa sesuatu yang bisa
mengalihkan perhatian anda, misalnya main game di hape/PS Portable
dan membaca koran/majalah/buku.


Temukan
intinya


Dulu
saya sering heran melihat teman-teman ibu saya yg masih bekerja di
tempat ibu saya pernah bekerja sebelum nikahan dgn bapak saya. Mereka
kira-kira sudah bekerja tiga puluh tahunan. Padahal saya sering
mengeluh bilang bosan bekerja di tempat saya sekarang. Mengapa mereka
bisa bekerja puluhan tahun tidak pernah mengeluh bosan? Sekarang saya
tahu, mereka bisa mengambil hikmah dari pekerjaan mereka. Saya rasa
mereka pandai mencuri inti dan semangat dalam tanggung jawabnya di
tempat kerja. Kalau melakoninya dengan penuh semangat, harapan, dan
bertanggung-jawab pasti di depan kita tidak ada kata bosan. Kita
tidak hanya datang ke tempat kerja hanya untuk ‘menyibukkan
diri dan di akhir bulan menerima gaji’, kita harus datang
bekerja sungguh-sungguh untuk menambah kualitas SDM kita. Tidak
masalah sekecil apapun posisi di tempat kerja. Seorang cleaning
service pun punya nilai-nilai yang bisa diambil dalam pekerjaannya.
Saya terpingkal-pingkal tertawa membaca tulisan berjudul “Pramugari
yang penuh perhatian” oleh Glenn van Ekeren dalam buku Chicken
Soup for the Soul at Work(84 kisah tentang keberanian, belas kasih,
dan kreativitas di tempat kerja)
hal 107-108, disana ada
nasehat :”Kerjakanlah hal yg anda sukai dan sukailah hal
yg anda kerjakan, dan akan anda dapati bahwa anda tak perlu bekerja
sehari pun bekerja dalam hidup anda”.


Menekuni
hobi dan Bergaul


Anda
perlu mempunyai kegiatan lain yang bisa menghibur dan kalau bisa
menambah uang saku kan enak juga. Dengan menekuni hobi, anda akan
menyeimbangkan fungsi otak kiri dan otak kanan. Sambil menekuni hobi
tentunya kita akan bergaul juga dengan banyak orang, minimal anda
akan berhubungan dengan orang yg sehobi dengan anda. Jangan pernah
mengatakan anda tidak pintar bergaul, komunikasikan ide-ide tentang
hobi anda kepada rekan sesama penggemar hobi. Yang terpenting anda
selalu memperbaharui ide-ide anda dengan jalan menjadi orang yang
menerapkan ilmu padi yang berisi akan selalu merunduk(rendah hati
menerima saran dan ide).


Panjang
sabar


Inilah
kesimpulannya:jangan pernah putus asa untuk memulai sesuatu hal yang
baik. Kalau anda merasa bosan, itu sebagai suatu cerminan rasa putus
asa anda. Saya menggambarkan orang yang mengeluh bosan seperti orang
yang mengejar kucing di lorong lalu terpaksa menghentikan langkahnya
karena di depan ada tembok tinggi dan kucingnya sudah hilang memanjat
temboknya. Rasa putus asa anda dapat diukur berbanding lurus dengan
seberapa besar kebosanan anda. Kalau anda putus asa berarti
anda sudah menganggap tidak ada jalan keluar terhadap sebuah masalah,
anda hanya menunggu sebuah pintu solusi terbuka. Atau anda malas?

Masuki dunia baru yang penuh cita-cita. Bagi saya, mencari sebuah
penyelesaian gampang saja:bermimpi. Iya, serius lho, bermimpilah
memiliki cita-cita yang setinggi-tingginya. Semakin tinggi
impian anda akan menjadi bahan bakar untuk meluncurkan anda mengatasi
zona kesulitan/ketidaknyamanan. Anda pasti akan mulai mencari-cari
celah-celah lain.
Tuhan akan membukakan jalan baik kepada
kita yang masih mau berusaha.


Mengakhiri
tulisan ini, saya masih ingat sebuah kutipan di majalah
Intisari:apa
yang dapat diimpikan dan dibayangkan pasti bisa diwujudkan. Kalau
anda bisa menyembuhkan penyakit bosan dalam diri anda setelah membaca
tulisan ini, sebarkan kepada orang lain/orang yg anda cintai. Saya
sangat sedih kalau tulisan ini cuma berakhir disini. Hidup ini lebih
indah dengan banyak berbagi.
(Lswan)







1 comments:

infogue mengatakan...

artikel anda bagus dan menarik, artikel anda:
Artikel psikologi terhangat
Artikel anda di infogue

anda bisa promosikan artikel anda di http://www.infogue.com/ yang akan berguna untuk semua pembaca. Telah tersedia plugin/ widget vote & kirim berita yang ter-integrasi dengan sekali instalasi mudah bagi pengguna. Salam!